Puisi Cinta Kahlil Gibran: Pohon Cinta

Puisi cinta Kahlil Gibran adalah salah satu karya sastra yang tak pernah lekang ditelan waktu.

Ribuan waktu telah berlalu semenjak kematiannya, akan tetapi karyanya masih menelisik jauh ke hati para penikmatnya.

Rangkaian kata tersusun indah menjadi puisi. Puisi merangkum segala pemikirannya. Dan dengan cinta, puisi itu laksana nektar-nektar dari bunga-bunga kehidupan. Maka hari ini, ketika aura cinta tertutupi oleh kemurkaan, kemunafikan, dan tarikan duniawi, karya-karya berhaluan Gibran ibarat tetesan embun.

Biarkan ia menitik ke lantai hati; membasahi persada jiwa dengan kebahagiaan dan ketentraman. Dan inilah puisi cinta Kahlil Gibran.


Puisi Cinta Gibran: Pohon Cinta

Tubuhku begitu letih. Perjalanan panjang ini melelahkan jiwa. Detak-detak jantung terasa lemah. Aku belum lagi sampai ke negeri nenek moyangku ketika akhirnya tubuh terjatuh lemah tiada berdaya. 

Di bawah rindang sebatang pohon yang tiada kuketahui namanya, aku menghirup wewangian yang tak pernah kukenali sebelumnya. 

Lalu semilir angin berhembus dalam kelembutan paling sempurna. Membuat pikiranku melayah-layah; mataku terkatup; bibirku terbungkam. Tetapi telingaku sayup-sayup mendengar gema suara. 

Suara itu amat lantang. Serupa sastrawan yang mendeklmasikan puisi cinta di hadapan para bidadari. Teramat sendu. Namun semarak penuh warna. 

Lalu tiba-tiba aku terhenyak. Kilatan cahaya menyambar mataku. Dan bagaikan tersihir kekuatan gaib, mataku terbelalak dengan hati tertegun; terpesona keanggunan yang terhampar di hadapanku. 

Seorang perempuan muda berdiri dengan begitu gagah. Cahaya wajahnya memancarkan keberanian dan ketangguhan. 

Dan kudengar ia membacakan puisi cinta di bawah cahaya rembulan malam. 

"Cinta lebih indah dari puisi para manusia;
lebih  dalam daripada samudra;
dan lebih luas dari tujuh petala langit dunia.

"Dengarlah wahai manusia! Pohon cinta hanya tumbuh di hamparan jiwa yang disuburkan kebajikan; pohon yang tinggi menjulang dalam keabadian. 

"Akar-akarnya menghujam kuat ke perut bumi sedangkan tangkai-tangkainya adalah buah bernama kebahagiaan.

"Daun-daunnya adalah guratan yang dijalin oleh tangan ketulusan sejati. Dan apabila tiba waktunya, ia akan gugur ke pelukan bumi dengan cara yang paling indah."

Dengan rona yang sedih tiba-tiba suaranya terdengar parau.

"Tetapi engkau telah kehilangan cinta, sahabatku.  Engkau menyangka itu adalah cinta, padahal sekedar keinginan tuk memiliki. Kau menyebutnya cinta padahal hanyalah keegoisan yang memaksa orang lain agar menuruti kemauanmu.

"Engkau kehilangan cinta. Engkau juga kehilangan mahligai bahagia."

Aku mencoba mendengarkannya lebih seksama. Namun suaranya lambat laun semakin pelan. Hingga akhirnya tak sepatah katapun yang dapat kutangkap oleh kedua telingaku.

Kemudian secara tiba-tiba aku tersadar dari alam bayangan. Tubuhku duduk di bawah pohon nan rindang, tetapi hatiku tak dapat berteduh sebab pohon cintaku hampir layu.

**

Puisi Cinta Kahlil Gibran, Micorgist, 2015.
Sponsor
Previous
Next Post »