Orang Tenang Lebih Pandai Dalam Perencanaan Keuangan

MICROGIST. Sikap tenang berpengaruh terhadap perilaku belanja. Agakanya hasil penelitian mengungkapkan mengapa para investor adalah orang-orang tenang. Meskipun keadaan pasar sedang panik, secara emosional investor tidak terpengaruh terhadap hal tersebut.

Beberapa waktu lalu Eropa diguncang krisis, justru master investasi Warren Buffet menanamkan uangnya di perusahaan-perusahaan Eropa. Ada garis yang bersinggungan antara ketenangan dengan kesuksesan finansial. Ketenangan menjadikan perencanaan keuangan bekerja sesuai rencana.

Orang-orang tenang hanya belanja barang-barang yang mereka tentukan sebelumnya. Mereka tidak mudah teragitasi oleh berbagai buaian keindahan kemewahan. Ini berbeda sekali dengan orang-orang yang hidupnya dikelilingi kecemasan, khawatir, beban stress, dan sejenisnya.

Limpahan Rezeiki Itu Tidak Pernah Habis


Ya, betapapun jumlah penduduk semakin tinggi dari ke hari, bukan berarti stok rezeki menipis. Justru semakin banyak. Mindset ini agaknya harus diterapkan guna mengurangi beban stress, terutama bagi kaum kota.

Kota-kota yang padat penduduk justru menjadi mesin rezeki. Oleh karena itu peluang usaha antara di Jakarta berbeda dengan di desa nun jauh di kampung sana. Artinya limpahan rezeki semakin banyak meskipun jumlah manusianya bertambah. Pemikiran semacam ini berkebalikan dari mahzab ekonomi yang mencemaskan tingginya tingkat persaingan.

Bandingkan sejarah 70 tahun yang lalu, ketika manusia Indonesia baru berkisar 70-80  juta jiwa dengan masa sekarang yang berada di angka 300 juta. Secara materi kehidupan lebih makmur saat ini. Sekali lagi kita memahami bahwa stok rezeki tidak berkurang meskipun manusia bertambah berlipat-lipat banyaknya.

Anda Tetap Terurus

Ketika Anda mencemaskan kondisi finansial, kesulitan mengatur keuangan pribadi, ataupun gagal dalam menerapkan perencanaan keuangan, pada saat yang bersamaan Anda masih hidup hingga saat ini. Anda sehat dan masih bisa tertawa.

Padahal mungkin sebulan atau setahun yang lalu Anda juga mencemaskan keadaan masa depan: yang tak lain adalah masa sekarang yang sedang Anda jalani.

Jika diri Anda tetap diurus oleh Tuhan, mengapa Anda tidak mengganti kecemasan tersebut dengan ketenangan. Dengan bersikap tenang Anda tidak kehilangan pekerjaan, tidak dijauhi teman-teman, tidak kehilangan uang Anda. Tidak ada ruginya bersikap tenang sementara pikiran dan raga bekerja merajut kemakmuran.



Hanya Ada Dua Kondisi: Cukup Atau Kaya

Pada akhirnya kehidupan mengajarkan., kita senantiasa berada di antara dua kondisi ini: cukup atau kaya. Sedangkan kondisi miskin sebenarnya lebih banyak ditentukan oleh faktor psikologis.

Anda merasa miskin, merasa kekurangan, merasa belum cukup... itu semua hanyalah kondisi psikologis. Parahnya, keadaan psikologis negatif tersebut hanya mengundang kecemasan. Di saat bersamaan mengurangi stok kebahagiaan Anda.

Di sisi lain, seseorang yang dipenuhi oleh perasaan kaya sangat mudah menjadi kaya. Ya hukum siapa yang menanam, dia memanen berlaku di sini. Mereka yang menanam benih-benih kekayaan di segenap persada jiwa akan menuai kekayaan plus kebahagiaan.

Menjadi pribadi yang tenang merupakan keputusan. Tidak ada yang melarang kita melanjutkan hidup dengan kecemasan. Tetapi mengapa kita harus melajutkan lifestyle  yang hanya membuat kehidupan ini tak ubahnya beban.

Tenangkan perasaan. Rencanakan keuangan.
Sponsor
Previous
Next Post »